CERAI merupakan satu kata yang sangat dihindari pasangan suami istri. Kata Cerai berarti putusnya mahligai rumah tangga yang sudah terbina.

Semua perceraian diakibatkan beberapa factor pemicu, bisa dari dalam ( Suami- Istri ) ataupun dari luar termasuk orang ketiga.

Perceraian yang terlalu cepat dalam perjalanan rumah tangga, apalagi bagi pasangan muda, akan berdampak pada psikologi atau tekanan bathin bagi keduanya.

Lebih lebih, akibat perceraian yang terlalu cepat terjadi ini langsung menimbulkan cibiran dari tetangga.

Hal ini bisa membuat jatuhnya mental pasangan suami istri yang bercerai dalam usia perkawinan muda .

Kadang kala, seorang perempuan dengan pede nya mengatakan lebih baik menjanda ketimbang menjalani ketersiksaan dan keterpaksaan menjalani rumah tangga yang sudah tak selaras dan harmonis.

Kata – kata Lebih baik menjanda boleh dikatakan, sebagai pernyataan spontan dan terkesan menghibur diri belaka.

Karena pada hakekatnya semua yang berumah tangga ingin awet sampai menyandang label kakek dan nenek.

Selain itu tidak ada di dunia ini, seorang perempuan yang bercita cita jadi janda. Atau seorang laki laki yang punya angan angan atau mimpi jadi duda.

Sepahit-pahitnya perceraian yang dialami pasangan muda, bukan berarti ini adalah sebuah kiamat masa depan.

Walaupun sudah bercerai, mereka tetap harus semangat melakoni terjalnya liuk dan liku nya kehidupan.

Ingat Kehidupan masih panjang, matahari masih mau menyapa pagi dan ombak air laut masih asyik bercengkrama dengan bibir pantai .

Perceraian yang sudah terjadi itu harus memicu lokomotif nurani untuk bisa mencari pasangan lagi dengan niat berumah tangga yang lebih baik lagi.

Perceraian di usia muda, boleh dikatakan bisa menempa pasangan tersebut lebih tahan banting dan bisa lebih pintar memilih pasangan yang serasi dan ideal dikemudian hari.

Perceraian dalam usia muda juga tak hanya berada dalam bingkai rumah tangga atau pasangan suami istri.

Namun, “Perceraian dini atau bercerai muda ” kerap juga menghiasi atau sudah menjadi potret politik di tanah air saat ini. Terutama menimpa pada pasangan kepala daerah dan wakilnya.

Banyak pasangan kepala daerah baik itu Gubernur, Walikota dan Bupati yang memiliki tingkat keharmonisannya cuma bertahan dalam satu tahun atau kurang satu tahun.

Padahal, perjalanan mereka harus finish secara harmonis sampai lima tahun jika masih ingin menjadi tandem ideal di pesta demokrasi yang akan datang.

Pasangan politik yang “Bercerai muda “ pada dasarnya terdorong oleh banyak faktor seperti ketimpangan peran dalam penyusunan formasi kabinet yang akan memangku jabatan strategis di lingkungan SKPD nya.

Faktor lainnya kadang kala timbul akibat kurang fair atau adanya ketimpangan pembagian “ kue “ dari sekian banyak proyek yang ada di pemerintahannya.

Disamping itu, “ cerai muda “ pasangan politik yang memangku orang nomor satu dan dua di daerahnya sering terlihat tidak diperankannya orang nomor dua dalam memgambil peran di event event berskala besar dan menyedot perhatian public banyak.

Tak heran, posisi orang nomor dua dalam pasangan politik yang sudah tak harmonis ini seperti layang-layang putus bahkan cenderung “clingak – clinguk “ atau “ Kikiciprikan “ gak keruan tanpa arah dan seperti tak dianggap lagi keberadaannya.

Seharusnya, pasangan ini menjadi mitra dalam diskusi menyusun semua program pembangunan daerah, sebagai tandem ideal dalam kebijakan daerah yang akan dikeluarKannya.

Tidak harmonisnya pasangan politik yang memangku jabatan orang nomor satu dan nomor dua bisa juga diakibatkan munculnya para pencuri adegan, yakni para Pembisik yang akhirnya beperan jadi “ Pembusuk “ keretakan pasangan politik di banyak daerah.

Hantaman “psikologis politik “ akibat tidak dberikan peran sentral dan strategis kepada orang nomor dua , ini harus dijadikan “mercon-mercon”kebangkitan emosi, kebangkitan gairah dalam menyusun strategi di periode berikutnya oleh para pendukung atau partainya.

Dalam konteks Politik tanah air saat ini, tidak menutup kemugkinan pasangan politik yang terjalin pada lima tahun pertama menjabatnya , tiba tiba akan menjadi lawan yang berhadap hadapan di Pesta Demokrasi berikutnya.

Apa yang dipaparkan penulis ini, sama sekali tidak ditujukan kepada siapapun.

Ini hanya sebuah penggalan – penggalan peristiwa politik di berbagai daerah yang terserap informasinya kepada telinga penulis dan akhirnya menjadi sebuah intuisi penulis.

Paparan ini harus dipahami para tokoh partai jika kedepannya akan mengusung para calonnya untuk maju dalam pesta demokrasi langsung di daerahnya masing masing , supaya tidak terjebak pada jaring –jaring kekecewaan.

Namun jika ada yang tersinggung dengan sentilan yang bukan usil ini, tak perlu marah atau baper !!!. Cukup Istigfar dan Intropeksi diri.

Bercerai muda memang menyakitkan bagi siapapun . Namun bertahan dalam badai yang besar, tentunya akan menjadi modal bagi yang terluka jiwanya .

Hingga kedepanya akan lebih tahan banting dan kuat jika ikut gelombang pertarungan demokrasi yang akan datang. (****)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *